Laman

Sabtu, 25 Februari 2012

Segudang Muallaf di Jerman

Warga Jerman kini ramai-ramai belajar Islam. Mereka mengaku sama-sekali tidak terpengaruh pada isu perang global melawan terorisme yang dikobarkan Amerika dan menyudutkan umat Islam. Hal itu terungkap dalam laporan Lutz Ackermann, salah seorang jurnalis ternama, di harian Jerman terkemuka Der Spiegel.

Proses perjalanan batin mualaf Jerman umumnya sama. Mereka rata-rata penganut Kristen yang bingung pada ajaran agamanya. Ada beberapa ajaran yang membuat penganutnya ragu akan kebenaran agamanya kata Mohammed Herzog, imam di Masjid Berlin yang sebelumnya justru seorang pendeta. Setelah mencari di berbagai keyakinan, hati mereka tertambat pada Islam.



Angka pindah agama di kalangan kelas menengah Jerman cukup mencengangkan. Kendati media rajin memberitakan tentang terorisme yang dikaitkan dengan Islam, bom bunuh diri dan kekerasan dalam rumah tangga, namun 4.000 warga negara Jerman telah masuk Islam hanya pada bulan Juli 2004 hingga Juni 2005. Jumlah muallaf meningkat empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya, justru di saat kebencian Barat terhadap Islam makin memuncak tulis laporan itu. Sebagian besar mualaf adalah kaum terpelajar yang masuk Islam atas kesadaran sendiri. Bila tiga tahun lalu kebanyakan mualaf adalah wanita yang pindah agama karena pernikahan, kini justru banyak kaum pria dari kalangan kelas menengah.

Salah satu muallaf yang baru saja menemukan kenikmatan Islam adalah Yahya Schroeder. Sebelumnya, ia adalah remaja biasa yang menikmati hidup dengan hura-hura, pesta, minum alkohol, mabuk-mabukkan dan maksiat lainnya. Yahya memeluk Islam sejak Nopember 2006. Saat remaja lain sibuk mereguk nikmatnya puncak masa remaja, pria 18 tahun ini justru sedang berada di puncak pencarian spiritualnya. Melalui situs www.readingislam.com ia menorehkan kisah perjalanan spiritualnya itu kepada publik, semata-mata untuk berbagi pengalaman dengan sesama saudara se-Islam, terutama yang berdomisili di negara non-Muslim.

Memang, seperti diakui Yahya, hidup sebagai seorang Muslim di Jerman tidaklah mudah. “Jika orang Jerman ditanya apa yang mereka ketahui tentang Islam, maka mereka akan jawab Islam identik dengan yang berbau Arab. Jadi persis seperti sebuah simbol operasi dalam matematika, Islam = Arab. Mereka belum tahu kebesaran Islam yang sebenarnya,” imbuhnya.

“Kala itu aku punya segalanya; rumah mewah, mobil, uang, dan berbagai macam jenis mainan canggih. Aku tidak pernah kekurangan uang, tapi entahlah, aku merasa hidup tidak tenang, selalu gelisah. Kala itu pun aku berpikir untuk mencari “sesuatu” yang lain,” sambungnya.

Melalui ayahnya yang lebih dahulu menjadi muallaf, Yahya mulai tertarik kepada Islam.

Yahya mulai tertarik kepada Islam. Sejak itulah ia mulai serius belajar Islam dan menghadiri forum pengajian rutin setiap bulannya di kota Postda.


 Sumber : forsansalaf.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar